Senin, 24 Februari 2014

(Buku Bicara) Upacara Bakar Rambut: Puisi yang Menolak Sajak, oleh Karisma Fahmi Y.

Segala sesuatu yang diciptakan manusia selalu menuju kesederhanaan. Kesederhanaan adalah bentuk paling sempurna (Alessandro Dumas).

Ambiguitas Definisi
Dua kekuatan Dian Hartati (DH) dalam puisi-puisinya adalah kesederhanaan dan imajinasi. Cerita yang sebenarnya kecil, jamak, lekat, dekat dan terlihat, namun digambarkan dengan imajinasi tak biasa. Imajinasi yang terasa ringan tanpa beban, jenaka, ceria, tidak sentimentil, tidak satir dan tidak menyindir, tanpa mengurangi nilai-nilai yang disampaikan. Puisi yang tidak berlebihan, tepat porsi dan sarat gizi.
Semula saya berpikir puisi adalah sebuah karangan terikat sebagaimana definisi yang telah ditanamkan oleh guru-guru jaman kita sekolah dulu, dituliskan dalam buku-buku materi pembelajaran sastra dan bahasa Indonesia, dan bahkan secara resmi tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kurang lebih disebutkan dalam definisi tersebut bahwa puisi adalah karangan yang terikat oleh rima, matra, penulisan bait, dan gubahan serta larik-lariknya. Semua ada aturannya. Bunyi, jumlah, diksi, persajakan dan semua kerumitan-kerumitan itu.
Semakin mempelajari dan membaca puisi dan berbagai literatur, yang saya temui adalah ambiguitas. Sedikit demi sedikit akhirnya saya harus melepas definisi. Beberapa puisi dan penyair masih bertahan dengan “ikatan-ikatan” puisi. Bahwa rima, nada, diksi dan jumlah suku kata merupakan elemen yang tetap “melekat” pada puisi.
Saya sendiri sedikit menulis puisi, dan  sulit melepas apa yang kadung rekat dalam benak saya tentangnya. Definisi dan perkembangan puisi yang sangat luas dan berubah-ubah secara subjektif inilah yang sering menjadikan saya terus bertanya, apa definisi yang paling tepat dari puisi. Sebagian besar penyair modern membebaskan puisi dari ikatan-ikatan. Sebagian lagi masih merasa perlu mempertahankan kestabilan definisi. Semua soal subjektifitas. Dan memang, subjektifitas inilah yang menjadi kekuatan puisi. Begitu utuh, multitafsir. Hingga akhirnya saya membaca Upacara Bakar Rambut (UBR) ini.

Mendongkrak Definisi, Menyusun Keabstrakan
Ini bukan hal yang mudah, melepaskan puisi dari ikatan-ikatan sebagaimana galibnya puisi yang telah kita kenali, yang telah menjadi kesepakatan dan telah tercatat secara resmi di lembaga kebahasaan. Inilah yang menjadi kekuatan besar DH. DH menyuguhkan kebebasan. Ia membebaskan setiap kata dalam puisinya menyusun imajinasinya sendiri. Dan tentu saja, untuk semua itu, selalu ada yang dipertaruhkan. Mengabaikan matra, melepaskan sajak, dan membebaskan rima, merupakan kerja besar penuh resiko, karena notabene semua itu elemen penting puisi. Dan DH membuktikan semua itu dengan menyusun kekuatan yang lebih besar dari puisinya : imajinasi.
DH seolah tidak tidak perlu berburu kata-kata puitis, persajakan, menggali-gali kata, fakta, ataupun upaya-upaya yang biasa dilakukan penyair demi “panggung baca” yang indah, demi gaung yang tepat untuk lekat di hati pembaca, demi performance dengar yang menghanyutkan.
DH membangun imajinasi justru ketika kata benar-benar terbebas. Kata menjadi kebas dari semua definisi yang dituntutkan puisi. Dan semua itu secara total dimulai dari awal, dari judul yang ditampilkan. Dapatlah kita cermati kembali judul-judul dalam buku puisi ini : Ikan yang Pusing, Laut Telah Pindah Rumah, Keluarga Spora, Rasa Bumbu Kuning, Malam-malam Menyeberang di Laut, dst. Subjektif saya katakan, untuk ukuran puisi, ini bukan judul yang puitis apalagi romantis. Namun puisi ini telah membuktikan panggung yang dibentuknya sendiri. Imajinatif. Saya akan mengambil satu sampel puisi yang cukup mewakili untuk ulasan ini.
Ikan yang Pusing
pagi-pagi sekali pasar kudatangi
sepi tak ada peminat
hanya ombak yang bergulungan
menyampaikan buih sampai di pijakan

memang tak ada angin
tapi, ombak berlarian mempermainkan ikan-ikan
aku mencari daratan yang lain
barangkali saja pedagang pindah tempat
sebab pasar jadi laut
dan laut pindah ke tengah kota

aku mendengar orang-orang berbisik
ramai sekali
seperti angin yang mengikuti
banyak mata di belakang
aku rasa itu mata ikan
Menganggap aku nelayan yang punya umpan

segera aku berbalik
banyak patung ikan muncul di lautan
ombak kian mengganas
ombak menyeret nyawa-nyawa
termasuk ikan
dan aku memilih menu yang lain

Kalau boleh saya membayangkan tentang peristiwa yang disampaikan dari puisi di atas adalah peristiwa alam yang besar. Peristiwa hebat yang menyangkut nyawa dan keselamatan manusia. Namun dalam puisi tersebut penyair menggambarkan dengan cara yang ringkas, dengan potret abstrak yang sederhana. Kita seperti disodori mozaik gambar yang diterjemahkan secara pendek saja: pergi ke pasar, orang-orang ribut, dan air laut meluap. Begitu sederhana dan simple saja. Sementara peristiwa yang sebenarnya terjadi sangatlah heboh, setidaknya banjir bandang atau tsunami.
Air laut yang pasang, manusia terancam hanyut, dan keadaan yang demikian genting. Semua itu diungkapkan dengan partitur datar, seolah penyair membawa kita untuk membayangkan peristiwa biasa yang terjadi sehari-hari, yang bisa diungkap dengan bahasa lisan yang diungkapkan pada mitra bicara secara dekat. Tanpa sajak, tanpa rima, tanpa aturan paten puisi. Dengan gambar puzzle sederhana yang acak, dan seolah tidak saling berhubungan. Puisi yang mengungkapkan hal besar dengan begitu sederhana namun lugas. Puisi DH ini mengantarkan saya pada kesadaran: tidak perlu bertele-tele dalam mengungkapkan sesuatu yang besar. Puisi-puisi yang dilahirkan untuk menceritakan sesuatu (musibah, dalam puisi ini) dengan cara yang tabah, ringan saja. Puisi yang easy come easy go. Tidak menuntut, dan tidak memaksa pembaca dengan kata-kata puitis yang berat dan butuh perenungan lebih dalam untuk memahaminya.

Kejenakaan yang Magis
Dengan kesederhanaan imajinasi ini pada akhirnya memunculkan keriangan-keriangan kecil. Kebahagiaan yang terselip dalam puisi, apapun tema yang ditampilkan. Puisi-puisi DH mampu menampik rasa duka, sentimentil, atau pula rasa haru dari kisah yang disampaikan dalam puisi, dari kisah sehari-hari yang dituangkan dalam puisi. Ini tidak mudah, menciptakan warna yang ceria dari hal-hal yang mengharukan dalam bentuk puisi.
Hal ini muncul juga pada beberapa puisi yang bercerita tentang kematian, tentang kepergian seorang terkasih yang ada pada judul Aku Mencintaimu Bersama Kematian yang Datang, Begitu Aku Berbisik di Telingamu, Menghapusmu, Kes.., Berjalan di Bawah Keranda, dan yang paling lucu adalah puisi Wangi Bunga yang Mengikuti, lagi-lagi saya berhadapan dengan kebebasan itu, dengan imajinasi-imajinasi konyol itu, dengan kepingan-kepingan puzle yang terpotong acak itu, dengan kejenakaan itu. Kematian, yang seharusnya merupakan hal yang sacral dan pahit, tiba-tiba kita disajikan pada kekonyolan tingkah manusia yang menanggapinya, dan DH menulis dengan gambar simple saja. Dengan diksi ringan tanpa mengurangi emosi puisi. Kita bisa menikmati perasaan sentimentil, duka dan ke-belum-relaan perasaan ditinggalkan oleh kekasih yang meninggal.
Sedikit saya nukilkan puisi Wangi Bunga yang Mengikuti:
saat aku mencuci baju,
wangi bunga datang lagi
kau tahu, ini kali pertama
aku mencuci tanpa bajumu
(Wangi Bunga yang Mengikuti)
Aneh memang, kata atau lebih tepatnya kegiatan mencuci baju masuk dalam diksi dan bahkan fragmen sebuah puisi. Tapi toh saya terharu juga. Toh saya tersenyum juga. Dan inilah yang saya sebut sebagai magis itu. Ketika dengan diksi yang sederhana, lugu, ringan, santai dan lekat dengan kehidupan sehari-hari, penyair mampu menggali perasaan dan keterharuan pembaca. Puisi yang mampu menghadirkan perasaan sentimentil, romantika, kronik, dalam kegiatan atau ungkapan sederhana. Saya pikir itu bukan hal yang mudah, apalagi menjadikannya dalam bentuk puisi. Dan ini terjadi pada rataan puisi dalam buku ini. Dan ini membuat saya semakin percaya, bahwa terlepas dari karya sastra, kejenakaan adalah unsure utama kecendekiaan.
Tidak banyak penyair yang bisa melakukan ini, yang secara gembling melepaskan puisi dari ikatan-ikatan definisi. Melepaskan puisi dari tuntutan yang mengikatnya. Puisi yang diksi dan kata-katanya tidak sentimentil, yang kata-kata di dalamnya membebaskan diri untuk menyusun ceritanya sendiri, dan membiarkan kata-kata berkembang menyusun fragmen tanpa penyair harus menyelaraskan aksi panggung pembaca.
Puisi, dengan segenap kekuatan dan kelemahannya mengajak pembaca untuk berkelana menjajagi bentuk kata dan  imajinasi. Puisi sebagai refleksi diri. Puisi sebagai rahim dari keresahan yang lahir oleh waktu. Bahwa dengan puisi, seorang penyair harus dibebaskan, bukan dikekang. Bahwa dengan puisi, seorang penyair dan pembaca dapat merasa bahagia. Buku UBR ini telah membuktikan kepada saya tentang itu semua. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar