Senin, 25 November 2013

7 Acara yang direncanakan digelar di festivalsastrasolo2014





Sabtu, Februari 2013

Student Hijo dan Marco Kartodikromo, Pk. 10.00-12.00
Novel Student Hijo karya Marco Kartodikromo, terbit pertama kali tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang. Novel ini mencoba berkisah tentang awal mula kelahiran para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengkontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda. Hingga menjadi masuk akal jika novel ini kemudian dipinggirkan oleh dominasi dan hegemoni Balai Pustaka, bahkan sampai saat ini.
Acara ini berlangsung sebelum Februari 2014, dengan diawali pembacaan bersama buku ini. Panitia akan mengupayakan buku ini agar dapat dibaca semua peserta yang berkenan.

Tempat            : Balai Soedjatmoko
Pembicara       : Andreas Susanto & Muhidin M Dahlan
Moderator      : Romdhon
Kordinator       : Indah Darmastuti & Yunanto Sutyastomo

Melacak Iklan-iklan Sastra Tempo Dulu, Pk. 13.00-15.00
Buku sastra selalu dalam kondisi terpinggirkan. Tak laku dan selalu dijauhi penerbit. Kondisi ini berlangsung sejak lama. Beberapa analisa menganggap bahwa penerbit enggan beriklan buku-buku sastra. Karena dianggap percuma. Sebuah pelacakan menandakan bahwa iklan-iklan sastra sebenarnya beredar sejak lama!

Tempat            : Radya Pustaka
Pembicara       : Bandung Mawardi & Agus Wahyudi
Moderator      :
Kordinator       : Bandung Mawardi

Buku Bicara, Pk. 15.30-17.30
Sudah jamak, launching dan bedah buku sastra kerap sepi pengunjung. Biasanya hanya dihadiri kawan-kawan semata. Untuk itu dibutuhkan sebuah acara yang saling mendukung untuk mengekspos keberadaan buku-buku sastra. Acara ini membuka pintu bagi kawan-kawan yang hendak membedah bukunya di sini. Silahkan kirim buku anda, kami akan menyeleksinya hingga hanya ada 5 buku sastra.
- Bulan Memerah – Abednego Afriadi

Tempat            : Wisma Seni, TBJT
Moderator      : Indah Darmastuti
Koordinator     : Ngadiyo

Solo dalam Puisi, Pk. 19.00-21.30
Puisi-puisi  lama cenderung terlupakan. Dalam sebuah pelacakan, ditemukan bagaimana penyair-penyair tempo dulu pernah menulis puisi-puisi tentang kota Solo. Acara ini dimaksudkan menggabungkan puisi-puisi lama hasil pelacakan itu dengan puisi-puisi baru. Diharapkan ada petualangan baru yang unik dalam kata terhadap kota ini.
Acara ini dirilis awal Januari 2014, dengan diawali posting puisi2 lama itu di blog kami. Lalu dilanjutkan dengan pengumpulan puisi. 

Tempat            : Teater Arena, TBJT
Pembicara       : Lasinta (kurator)
Moderator      : ?
Kordinator       : Fanny Chotimah


Minggu Februari 2013

Bicara Alice Munro, Pk. 10.00-12.00
Penghargaan Nobel masih dianggap penghargaan paling prestisius di dunia sastra. Adalah Alice Munro yang terpilih sebagai pemenangnya tahun 2013. Beliau adalah seorang cerpenis yang sama sekali tak pernah diperkirakan mendapatkan penghargaan ini.
Acara ini akan membahas bagaimana perjalanan karir dan karya-karya Alice Munro, dan alas an kenapa ia bisa memenangkan Nobel. Di acara ini akan ada pula launching buku Alice Munro.

Tempat            : Balai Soedjatmoko
Pembicara       : Jonny Ariadinata & Eko Triono
Moderator      : Sanie B. Kuncoro
Kordinator       : Rio Johan dan Han Gagas

Bicara Sastra dengan Raudal Tanjung Banua, Pk. 13.00-15.00
Raudal Tanjung Banua merupakan satu satrawan yang bertahan dan terus mengeluarkan karya-karyanya hamper dua decade ini. Semua masih ingat betapa dulu, ia memenangi sayembara cerpen Horison. Kini walau muncul banyak penulis-penulis baru namanya tetap berkibar di dunia sastra nasional. Petualangannya di tahun-tahun terakhir ini memang jauh dari hiruk pikuk sastra perkotaan, namun di situlah letak keberadaan sastra yang terus dirawatnya.

Tempat            : Pendhapa Rumah Wakil Walikota
Pembicara       : Raudal Tanjung Banua
Moderator      : Yudhi Herwibowo
Kordinator       : Puitri Hati Ningsih

Poro Mudo Remen Cerkak lan Geguritan, Pk. 15.30-17.30
Cerkak dan geguritan adalah satu yang mungkin terlupakan. Tak banyak penulis cerkak dan geguritan yang menonjol di tahun-tahun terakhir ini. Semua masih menyisakan nama-nama besar yang sudah ada sejak lama. Padahal di Solo penulis-penulis muda cerkak dan geguritan terus bermunculan. Ini adalah acara untuk mengumpulkkan mereka yang sedikit itu. Mengumpulkan tulisan dan membacakannya dengan santai.
Acara ini dirilis awal Januari dengan pengumpulan cerkak dan geguritan. Kurator yang dipilih adalah Impian Novitasari, anak muda yang sudah dikenal serius menekuni sastra Jawa.

Tempat            : Wedhangan Rumah Nenek
Pembicara       : Impian Novitasari (kurator)
Moderator      : ?
Kordinator       : Yudhi Herwibowo


festivalsastrasolo2014: Sebuah Kilas Balik

Menyambung munculnya ide membuat festival di rapat beberapa minggu lalu, rapat tanggal 22 Novelber 2013, secara jelas membicarakan rencana itu.

Rapat yang dihadiri oleh Yudhi Hewibowo, Bandung Mawardi, Puitri Hati Ningsih, Lasinta Ari Nendra, Kinanthi Anggraini, Ngadiyo dan Rio Johan mulai mengumpulkan acara-acara yang akan digelar di festival yang rencananya akan dilangsungkan 2 hari ini. Malam itu terkumpul 7 acara untuk festival itu, namun ini masih akan digodok lagi dalam rapat selanjutnya.

Beberapa tahun lalu, Buletin Sastra Pawon pernah membuat Festival Sastra Pawon Solo: Tanda Seru! Acara itu juga berlangsung selama 2 hari. Beberapa acara yang digelar adalah: Muni-muni Puisi yang menghadirkan penyair-penyair seperti Sosiawan Leak, Napak Tilas Novel Canting - Arswendo Atmowiloto, Membedah buku Puisi Mardi Luhung, yang saat itu baru memenangkan KLA Award, bersama pembicara Beni Setia, Menulis Novel bersama Sanie B. Kuncoro, Workshop Menulis bersama Raudal Tanjung Banua, Bicara soal Satra Solo bersama Wijang Wharek dari Taman Budaya Surakarta, dan lain sebagainya.

Tempat-tempatnya pun bergantian di beberapa tempat. Radya Pustaka, sebagai musium pertama, juga kita jadikan sebagai salah satu tempat acara. Selain itu pendhopo Mesjid Agung serta Pelataran Sriwedari serta Balai Soedjatmoko. Selebihnya acara diadakan di Gedung Kesenian Solo (GKS)

Bercermin dari acara tersebut konsep lokalitas memang lebih diangkat oleh Pawon (yh)